Wednesday, 15 March 2017

Selamat Hari Perempuan Internasional

[08/03/2017]

.

.

Selamat Hari Perempuan Internasional.

.

Mengapa saya seorang feminis?

.

Karena saya masih mendengar perempuan yang dicemooh karena mengalami pelecehan seksual, dan mereka yang disalahkan walaupun seorang korban.

.

Karena ketika lulus kuliah yang ditanya adalah 'Kapan nikah?' atau 'Kapan punya pacar?', seakan kami hanya berharga ketika memiliki pasangan.

.

Karena di luar sana, pernikahan gadis dibawah umur dengan pria yang lebih tua masih terjadi.

.

Karena di luar sana, gadis muda masih diculik dan dijual sebagai objek pemuas seksual belaka.

.

Karena masih ada anggapan bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi, padahal dari wanita lah lahir peradaban dunia, dan wanita adalah pendidik pertama seorang anak.

.

Karena kami masih dianggap rendah derajatnya, karena kami seorang wanita.

.

Sumber foto: various twitter, tumblr, and pinterest acounts.

.

#internationalwomenday

.





 





Saturday, 7 January 2017

Day 6: A Balloon, A Ball, Balustrades.


.

Ia merasa sangat bosan.

Disekelilingnya, orang-orang saling bercanda tawa, menari, membicarakan hal-hal yang tidak penting, dan berusaha terlihat bersenang-senang walaupun dalam hati mereka tidak. Ia tahu hal itu, karena ia sendiri memasang senyum palsu walaupun dalam hati ia merasa bosan. Kesal.
Tapi sayangnya, ia harus mengikuti hal ini sampai pukul sepuluh malam, waktu tercepat untuknya pulang yang ditentukan oleh orang tuanya.

Ia tidak tahu mengapa ia harus sekali datang ke acara seperti ini. Ia tidak kenal dengan siapapun (bohong, sebenarnya ia kenal, tapi orang-orang yang ia kenal bukanlah mereka yang ingin ia ajak bicara).

Ia memutar untuk mengambil minum lagi, sebelum kemudian dari ujung penglihatannya ia melihat sesuatu yang melayang-layang dan... bundar?

Balon?

Siapa yang bawa balon di pesta dansa?

.

.


Thursday, 5 January 2017

Day 4: "His wife was having tea with the King and he didn't even know about it."




.

Honey, I’m home.”

Terdengar suara tawa dari arah dapur. Tersenyum, Jonathan berjalan ke arah suara tersebut sembari melepas jas dan dasinya. Hari ini hari yang cukup melelahkan di kantor, sehingga pulang dan mendengar tawa istrinya adalah highlight harinya.

Hello, darling, how’s work?”

Jonathan tidak menjawab, lebih memilih untuk merangkul istrinya dari belakang. Wanita berumur dua puluh empat tahun itu tidak kaget dan tetap melakukan pekerjaan mencuci piringnya. Merengut karena tidak diperhatikan, Jonathan menaruh kepalanya di pundak istrinya dan memeluknya lebih erat.

“Aneh rasanya, menjadi guru di almamater sendiri. Beberapa dosen yang sekarang menjadi rekan kerja dulu pernah mengajarku.”

Well, setidaknya kau sudah tahu tips dan trik untuk menjalani keseharianmu di kampus.”

“But still weird being a lecturer instead of a student. And hey, how’s your day?”

Bebersih, seperti biasa. Membeli beberapa baju bayi yang kemarin belum sempat kita beli. Warna netral, seperti keinginanmu.”

Nice.”

“And I’ve had tea with an old friend.”

Oh? Siapa? Aku kenal?”

Nope.”

Aneh... karena biasanya teman istrinya adalah temannya juga, mengingat mereka bersama sejak junior di SMA. Tapi bukan berarti istrinya tidak boleh memiliki temannya sendiri...

Okay, then.”

.

.

Wednesday, 4 January 2017

Day 3: The Language of Flowers, Pyjamas, a Secret Passageway.




 .

Semua ini dimulai pada hari Rabu.

Hari yang, menurut Marie, seharusnya tidak ada di kalender. Karena entah mengapa hari Rabu sangat membenci Marie.

Atau mungkin Marie yang membenci hari Rabu.

Semua ini dimulai pada hari Rabu ketika Marie, karena malamnya telat tidur untuk mengerjakan tugas-tugas Sosiologi, telat bangun padahal ia ada kelas pagi. Kemudian dilanjut dengan semua kamar mandi di asrama penuh sehingga ia telat mandi. Setelah dimarahi karena telat masuk kelas, Marie baru menyadari bahwa tugasnya tertinggal di asrama.

Dan sekarang, pada jam makan siang, ia kehabisan makanan favoritnya yaitu pai apel.

I really, really friggin hate Wednesday,” Marie menggerutu kepada sahabatnya, Jonathan.

“Hmm, biasa saja dong.”

“Kau sih enak bisa makan pai apelnya.”

“Nih, untukmu saja.”

Marie langsung mengambil piring yang disodori Jonathan, bergumam “Terima kasih,” dan segera menghabiskan pai tersebut.

“Ugh, you and your pie.”

“Pie is like the gift of God, Jonathan, shut up.”

“Ehm, apakah anda Marie Thompson?”

Marie mengangkat kepalanya menatap seorang laki-laki sekitar satu tahun di atasnya yang membawa seikat bunga. Aneh. “Ya, dan kau adalah...?” tanya Marie.

“Saya hanya pembawa pesan, ini untukmu.”

Laki-laki itu menjulurkan seikat bunga yang dipegangnya ke arah Marie. Gadis bermata hijau cemerlang itu memiringkan kepalanya, bingung, sebelum dengan perlahan mengambil bunga tersebut.

Seikat bunga mawar tanpa duri dan bunga carnation merah. Sayangnya, tidak ada kartu ucapan apapun di karangan bunga tersebut.

“Huh, menarik.”

.

.